Jumat, 25 September 2015

KECAMATAN GEROKGAK

Kecamatan Gerokgak terletak paling barat Kabupaten Buleleng, terdiri dari 14 desa.

Batas-batas Kecamatan Gerokgak
   Utara          :  Laut Bali
   Timur         :  Kecamatan Seririt
   Selatan       :  Kabupaten Jembrana
   Barat          :  Selat Bali

Peta Kecamatan Gerokgak


Kamis, 17 September 2015

NAMA-NAMA DESA DI KABUPATEN BULELENG




Kabupaten Buleleng terdiri dari 9 kecamatan, yaitu :

         1.   Kecamatan Gerokgak
         2.   Kecamatan Seririt 
         3.   Kecamatan Busung Biu
         4.   Kecamatan  Banjar
         5.   Kecamatan Buleleng
         6.   Kecamatan  Sukasada
         7.   Kecamatan Sawan
         8.   Kecamatan  Kubutambahan
         9.   Kecamatan Tejakula

Adapun nama-nama desa dari masing-masing kecamatan adalah sebagai berikut :



1. Kecamatan Gerokgak terdiri dari desa :

     1.  Desa Tukad Sumaga
     2.  Desa Celukan Bawang
     3.  Desa Tinga-Tinga
     4.  Desa Pengulon
     5.  Desa Patas
     6.  Desa Gerokgak
     7.  Desa Sanggalangit
     8.  Desa Musi
     9.  Desa Penyabangan
    10. Desa Banyupoh
    11. Desa Pemuteran
    12. Desa Sumberkima
    13. Desa Pejarakan
    14. Desa Sumberklampok



2. Kecamatan Seririt terdiri dari desa :

    1.   Desa Kalianget
    2.   Desa Joanyar
    3.   Desa Tangguwisia
    4.   Desa Sulanyah
    5.   Desa Bubunan
    6.   Desa Pengastulan
    7.   Desa Munduk Bestala
    8.   Desa Bestala
    9.   Desa Gunung Sari
   10.  Desa Mayong
   11.  Desa Rangdu
   12.  Desa Ringdikit
   13.  Desa Patemon
   14.  Desa Unggahan
   15.  Desa Ularan
   16.  Desa Loka Paksa
   17.  Desa Uma Anyar
   18.  Desa Banjar Asem
   19.  Desa Kalisada
   20.  Desa Pangkung Paruk
   21.  Desa Seririt
 


3. Kecamatan Busung Biu terdiri dari desa :


   1.   Desa Busung Biu
   2.   Desa Kekeran
   3.   Desa Pelapuan
   4.   Desa Bengkel
   5.   Desa Ume Jero
   6.   Desa Kedis
   7.   Desa Titab
   8.   Desa Telaga
   9.   Desa Tinggar Sari
  10.  Desa Subuk
  11.  Desa Pucak Sari
  12.  Desa Bongan Cina
  13.  Desa Tista
  14.  Desa Sepang
  15.  Desa Sepang Kelod
  16.  Desa Sepang Kaja



4. Kecamatan Banjar terdiri dari desa :

   1.  Desa Banjar
   2.  Desa Tegeha
   3.  Desa Tampekan
   4.  Desa Dencarik
   5.  Desa Temukus
   6.  Desa Kaliasem
   7.  Desa Tigawasa
   8.  Desa Cempaga
   9.  Desa Pedawa
  10. Desa Banyuasri
  11. Desa Tirta Sari
  12. Desa Kayu Putih
  13. Desa Banyuatis
  14. Desa Gobleg
  15. Desa Munduk
  16. Desa Gesing
  17. Desa Sida Tapa



5. Kecamatan Buleleng terdiri dari desa :

   1.  Desa Banjar Bali
   2.  Desa Bakti Seraga
   3.  Desa Pemaron
   4.  Desa Tukad Mungga
   5.  Desa Anturan
   6.  Desa Kalibukbuk
   7.  Desa Sari Mekar
   8.  Desa Penglatan
   9.  Desa Jineng Dalem
  10. Desa Alas Angker
  11. Desa Poh Bergong
  12. Desa Naga Sepeha
  13. Desa Petandakan
  14. Desa Kaliuntu
  15. Desa Banyuasri
  16. Desa Banjar Sari
  17. Desa Kampung Baru
  18. Desa Banjar Jawa
  19. Desa Astina
  20. Desa Liligundi
  21. Desa Kendran
  22. Desa Paket Agung
  23. Desa Banyuning
  24. Desa Penarukan
  25. Desa Kampung Anyar
  26. Desa Kampung Bugis
  27. Desa Kampung Kajanan
  28. Desa Banjar Tegal
  29. Desa Beratan
  30. Desa Kampung Singaraja



6. Kecamatan Sukasada terdiri dari desa :

  1.  Desa Ambengan
  2.  Desa Gitgit
  3.  Desa Kayu Putih
  4.  Desa Padang Bulia
  5.  Desa Pancasari
  6.  Desa Panji
  7.  Desa Panji Anom
  8.  Desa Pegayaman
  9.  Desa Sambangan
 10. Desa Selat
 11. Desa Silangjana
 12. Desa Sukasada
 13. Desa Tegal Linggah
 14. Desa Wanagiri
 15. Desa Pegadungan



7. Kecamatan Sawan terdiri dari desa :

    1.  Desa Sangsit
    2.  Desa Bungkulan
    3.  Desa Jagaraga
    4.  Desa Menyali
    5.  Desa Sawan
    6.  Desa Bebetin
    7.  Desa Sekumpul
    8.  Desa Galungan
    9.  Desa Lemukih
   10. Desa Kerobokan
   11. Desa Sinabun
   12. Desa Suwug
   13. Desa Sudaji
   14. Desa Giri Emas



8. Kecamatan Kubutambahan terdiri dari desa :

    1.  Desa Bukti
    2.  Desa Kubutambahan
    3.  Desa Bila
    4.  Desa Tamblang
    5.  Desa Bulian
    6.  Desa Depeha
    7.  Desa Tunjung
    8.  Desa Tajun
    9.  Desa Bon Tihing
   10. Desa Pakisan
   11. Desa Bengkala
   12. Desa Tambakan
   13. Desa Mengening



9. Kecamatan Tejakula terdiri dari desa :

   1.   Desa Bondalem
   2.   Desa Julah
   3.   Desa Les
   4.   Desa Madenan
   5.   Desa Pacung
   6.   Desa Penuktukan
   7.   Desa Sambirenteng
   8.   Desa Sembiran
   9.   Desa Tejakula
  10.  Desa Tembok

  
  


   

Rabu, 16 September 2015

SEJARAH SINGARAJA




Tersebutlah Istana Gelgel pada sekitar tahun 1568 dalam suasana tenang, dimana Raja Sri Aji Dalem Sigening menitahkan putranda Ki Barak Sakti, supaya kembali ketempat tumpah darah Bundanya di Den Bukit (Bali Utara). Ki Barak Panji bersama Bunda Sri Luh Pasek, setelah memohon diri kehadapan Sri Aji Dalem lalu berangkat menuju Den Bukit diantar oleh empat puluh orang pengiring Baginda yang dipelopori oleh Ki Kadosot
Perjalanan mereka memasuki hutan lebat sangat mengerikan, udara yang sangat dingin menggigilkan, menembus celah-celah bukit, mendaki Gunung-gunung meninggi, menuruni jurang-jurang curam, dan akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yang agak mendatar. Pada tempat itulah mereka melepaskan lelah seraya membuka bungkusan bekal mereka. Sekali mereka makan ketupat, mereka sembahyang, kemudian mereka diperciki air/tirta oleh Sri Luh Pasek, demi keselamatan perjalanannya, belakangan tempat itu diberi nama “YEH KETIPAT”. Rombongan Ki Barak Panji telah tiba di Desa Gendis/Panji dengan selamat.
Tersebutlah Ki Pungakan Gendis, pemimpin desa yang sekali-kali tiada menghiraukan keluh kesah para penduduknya. Ia memerintah hanya semata-mata untuk memenuhi nafsu buruknya, kesenangannya hanyalah bermain judi, terutama sabungan ayam. Oleh karena demikian sikap pemimpin Desa Gendis itu, maka makin lama makin dibenci rakyatnya, dan pada saat terjadi peperangan, ia dibunuh oleh Ki Barak Panji.
Desa Gendis di perintah oleh Ki Barak Panji, seorang pemimpin yang gagah berani, adil dan bijaksana. Ki Barak Panji mendengar adanya kapal layer Tionghoa terdampar, kemudian timbullah rasa belas kasihan untuk menolong pemilik kapal tersebut. Baginda bersama-sama dengan Ki Dumpyung dan Ki Kadosot dapat membantu menyelamatkan kapal layer yang terdampar itu di pantai segara penimbangan. Setelah bantuannya berhasil, baginda mendapat hadiah seluruh isi kapal tersebut berupa barang-barang tembikar seperti piring, mangkok, dan uang kepeng yang jumlahnya sangat besar.
Kepemimpinan Ki Barak Panji makin lama makin terkenal, beliau selalu memperhatikan keadaan rakyatnya, mengadakan pembangunan di segala bidang baik fisik maupun spiritual. Oleh karena demikian maka sekalian penduduk Desa Gendis dan Sekitarnya, secara bulat mendaulat Baginda supaya menjadi Raja, yang kemudian dinobatkan dengan gelar “Ki Gusti Ngurah Panji Sakti”.
Untuk mencari tempat yang agak datar, maka Kota Gendis serta Kahyangan Pura Bale Agung-nya di pindahkan ke Utara Desa Panji. Pada tempat yang baru inilah Baginda mendirikan istana lengkap dengan Kahyangan Pura Bale Agungnya. Guna memenuhi kepentingan masyarakat desanya untuk menghantar persembahyangan di dalam pura maupun upacara di luar pura, serta untuk hiburan-hiburan lainnya, maka Baginda membuat seperangkat gamelan gong yang masing-masing di beri nama sebagai berikut :
  • · Dua buah gongnya di beri nama Bentar Kedaton
  • · Sebuah bendennya di beri nama Ki Gagak Ora
  • · Sebuah keniknya bernama Ki Tudung Musuh
  • · Teropong bernama Glagah Ketunon
  • · Gendangnya bernama Gelap Kesanga
  • · Keseluruhannya bernama “ Juruh Satukad”.
Karna perbawa dan keunggulan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, maka Kyai Alit Mandala, lurah kawasan Bondalem tunduk kepada Baginda. Kemudian atas kebijaksanaanya maka Kyai Alit Mandala, diangkat kembali menjadi lurah yang memerintah di kawasan Bondalem, Buleleng Bagian Timur.
Pada sekitar tahun 1584 Masehi, untuk mencari tempat yang lebih strategis maka Kota Panji dipindahkan kesebelah Utara Desa Sangket. Pada tempat yang baru inilah Baginda selalu bersuka ria bersama rakyatnya sambil membangun dan kemudian tempat yang baru ini di beri nama “ SUKASADA” yang artinya slalu Besruka Ria.selanjutnya di ceritakan berkat keunggulan Ki Gusti Panji Sakti, maka Kyai Sasangka Adri, Lurah kawasan Tebu Salah (Buleleng Barat) tunduk kepada baginda. Lalu atas kebijaksanaan beliau maka Kyai Sasangka Adri diangkat kembali menjadi Lurah di kawasan Bali Utara Bagian Barat.
Untuk lebih memperkuat dalam memepertahankan daerahnya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera membentuk pasukan yang di sebut “Truna Goak” di Desa Panji. Pasukan ini dibentuk dengan jalan memperpolitik seni permainan burung gagak, yang dalam Bahasa Bali disebut “Magoak-goakan”. Dari permainan ini akhirnya terbentuknya pasukan Truna Goak yang berjumlah 2000 orang, yang terdiri dari para pemuda perwira berbadan tegap, tangkas, serta memiliki moral yang tinggi di bawah pimpinan perang yang bernama Ki Gusti Tamblang Sampun dan di wakili oleh Ki Gusti Made Batan.
Ki Gusti Ngurah Panji Sakti beserta putra-putra Baginda dan perwira lainnya, memimpin pasukan Truna Goak yang semuanya siap bertempur berangkat menuju daerah Blambang. Dalam pertempuran ini Raja Blambangan gugur di medan perang dengan demikian kerajaan Blambangan dengan seluruh penduduknya tunduk pada Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Berita kemenangan ini segera di dengar oleh Raja Mataram Sri Dalem Solo dan kemudian beliau menghadiahkan seekor gajah dengan 3 orang pengembalanya kepada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Menundukkan kerajaan Blambangan harus ditebus dengan kehilangan seorang putra Baginda bernama Ki Gusti Ngurah Panji Nyoman, hal mana mengakibatkan Baginda Raja selalu nampak bermuram durjan. Hanya berkat nasehat-nasehat Pandita Purohito, akhirnya kesedihan Baginda dapat terlupakan dan kemudian terkandung maksud untuk membangun istana yang baru di sebelah Utara Sukasada.
Pada sekitar tahun Candrasangkala “Raja Manon Buta Tunggal” atau Candrasangkala 6251 atau sama dengan tahun caka 1526 atau tahun 1604 Masehi, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memerintahkan rakyatnya membabat tanah untuk mendirikan sebuah istana di atas padang rumput alang-alang, yakni lading tempat pengembala ternak, dimana ditemukan orang-orang menanam Buleleng. Pada ladang Buleleng itu Baginda melihat beberapa buah pondok-pondok yang berjejer memanjang. Di sanalah beliau mendirikan istana yang baru, yang menurut perhitungan hari sangat baik pada waktu itu, jatuh pada tanggal “30 Maret 1604”.
Selanjutnya Istana Raja yang baru dibangun itu disebut “SINGARAJA” karena mengingat bahwa keperwiraan Raja Ki Gusti Ngurah Pnji Sakti tak ubahnya seperti Singa.
Demikianlah hari lahirnya Kota Singaraja pada tanggal 30 Maret 1604 yang bersumber pada sejarah Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, sedangkan nama Buleleng adalah nama asli jagung gambal atau jagung gambah yang banyak ditanam oleh penduduk pada waktu itu.


 Tugu Singa Ambara Raja, ikon kota Singaraja

Monumen perjuangan rakyat Buleleng di pantai Singaraja